To be silent is the biggest art in a conversation

9 Jun 2008

Lingkungan Pendidikan Dalam Pendidikan Islam

LINGKUNGAN PENDIDIKAN DALAM

PENDIDIKAN ISLAM

A. Pendahuluan

Semua ciptaan Allah SWT, tercipta melalui proses masing-masing sesuai fitrahnya, kefitrahan tersebut memiliki potensi-potensi yang dapat mempengaruhi dirinya dan mempengaruhi lingkungannya.

Manusia sebagai ciptaan Allah SWT, yang paling mulia, sekaligus unik dengan segala dimensi yang dimilikinya, bisa berkembang dan tumbuh, berhubung manusia makhluk yang sensitif terhadap sentuhan-sentuhan lingkungan, tentu sedikit banyak, amnesia dipengaruhi oleh lingkungan sebagian teori mengatakan bahwa manusia adalah makhluk tabula rasa, artinya memang lingkungan yang akan membawa manusia terhadap peradabannya.

Namun menurut Islam, manusia adalah makhluk yang sudah dibekali potensi (baik dan buruk) dan yang paling berperan adalah potensi keyakinan, hal ini sesuai dengan ungkapan Ibnu Tufail, “Bahwa jiwa bukanlah tabula rasa, atau papan tulis kosong, ilham Tuhan telah bersifat di dalamnya sejak awal[4]

B. Pengertian Lingkungan

Yang dimaksud dengan lingkungan ialah suatu berada diluar diri anak dan mempengaruhi perkembangannya[5]

Menurut Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan sekitar ialah meliputi semua kondisi dalam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku manusia, pertumbuhan dan perkembangan kecuali gen-gen. dan bahkan gen-gen dan dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan bagi gen yang lain.

Pendapat lain mengatakan bahwa di dalam lingkungan itu tidak hanya terdapat jumlah factor pada suatu saat, melainkan terdapat pula faktor-faktor yang lain yang banyak jumlahnya, yang secara potensial dapat mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku anak. Tetapi secara actual hanya faktor-faktor yang ada di sekeliling anak tersebut yang secara langsung mempengaruhi pertumbuhan dan tingkah laku anak.

Alam sekitar merupakan salah satu faktor dari faktor-faktor pendidikan yang ada. Dengan demikian alam sekitar merupakan fktor penting pula bagi pelaksanaan pendidikan. Kedua factor pendidikan ini diakui ada persamaannya yaitu keduanya mempunyai pengaruh kepada pertumbuhan, perkembangan dan tingkah laku anak. Di samping itu diakui pula adanya perbedaannya, pengaruh alam sekitarnya merupakan pengaruh belaka, tidak tersimpul unsur tanggung jawab di dalamnya.

Anak didik akan untung apabila kebetulan mendapat pengaruh yang baik, sebaliknya anak didik, sebaliknya anak didik akan rugi apabila kebetulan mendapat pengaruh yang kurang baik.

Sedangkan factor pendidikan secara sadar dan bertanggung jawab menuntut dan membimbing anak kepada tujuan pendidikan yang diharapkan.

Mengingatkan adanya perbedaan tanggung jawab pengaruh pendidikan terhadap anak didik tersebut maka para ahli didik umumnya memisahkan dalam membahas pendidik dan alam sekitar sebagai factor pendidikan. Namun demikian factor pendidikan tersebut saling berhubungan dan saling berpengaruh. Karena itu tidak mungkinlah tiap-tiap factor itu berdiri sendiri. Seolah0olah factor pendidikan tersebut merupakan suatu gestalt. Ialah suatu keseluruhan yang berarti, maka akan tidak berarti bagian-bagian tersebut. Hal ini ditegaskan lagi oleh hadis Nabi Muhammad SAW

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi Nasrani maupun Majusi” (HR. Al-Bukhari)

unsur fitrah inilah yang menjadi kajian para fakur ilmu pengetahuan, terutama pakar pendidikan, sejumlah nama fitrah itu bisa dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Dan bagai mana pula respon fitrah tersebut terhadap sentuhan lingkungannya.

Sedangkan factor pendidikan secara sadar dan bertanggung jawab menuntut dan membimbing anak kepada tujuan pendidikan yang diharapkan.

Mengikat adanya perbedaan tanggung jawab pengaruh pendidikan terhadap anak didik tersebut maka para ahli didik umumnya memisahkan dalam membahas pendidik dan alam sekitar sebagai factor alam pendidikan. Namun demikian factor pendidikan tersebut saling berhubungan dan saling berpengaruh. Karena itu tidak mungkinlah tiap-tiap factor itu berdiri sendiri. Seolah-olah factor pendidikan tersebut merupakan gestalt. Ialah suatu keseluruhan yang berarti, dan apa bila salah satu bagian dari keseluruhan itu dihilangkan, maka akan tidak berarti, dan apabila salah satu bagian dari keseluruhan itu dihilangkan, maka akan tidak berarti bagian-bagian tersebut.

Macam-Macam Lingkungan dalam Pendidikan Islam.

Menurut Drs. Abdurrahman Saleh ada 3 macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap keberagaman anak, yaitu :

  1. Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama.

Lingkungan semacam ini ada kalanya berkeberatan terhadap pendidikan agama, dan ada kalanya pula agak sedikit tahu tentang hal itu.

  1. Lingkungan yang berpegang kepada tradisi agama tetapi tanpa keinsafan batin : biasanya lingkungan demikian menghasilkan anak-anak beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau beragama secara kebetulan.
  2. Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup dalam kehidupan agama. Lingkungan ini memberikan motivasi (dorongan) yang kuat kepada anak untuk memeluk dan mengikuti pendidikan agama yang ada. Apabila lingkungan ini ditunjang oleh Pimpinan yang baik dan kesempatan yang memadai, maka kemungkinan besar hasilnya pun paling baik[6]

Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan pendidikan itu dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

  1. Pengaruh lingkungan positif
  2. Pengaruh lingkungan Negatif
  3. Pengaruh netral

Pengaruh lingkungan positif yaitu lingkungan yang memberikan dorongan atau memberikan motivasi dan rangsangan kepada anak untuk menerima, memahami, meyakini serta mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan pengaruh lingkungan negative yaitu lingkungan yang menghalangi atau kurang menunjang kepada anak untuk menerima, memahami, meyakini dan mengamalkan ajaran Islam.

Mengenai lingkungan netral adalah lingkungan yang tidak memberikan dorongan untuk meyakini atau mengamalkan agama, demikian pula tidak melarang atau menghalangi anak-anak untuk meyakini dan mengamalkan ajaran Islam. Lingkungan ini apatis, masa bodoh terhadap kebergamaan anak-anak. Lingkungan ini nampak ada dalam kehidupan masyarakat.

Selanjutnya di bawah ini akan dibahas beberapa lembaga yang tumbuh di dalam masyarakat serta mempunyai pengaruh luas bagi kehidupan agama anak.

  1. Keluarga

Keluarga adalah ikatan laki-laki dengan wanita berdasarkan hukum atau undang-undang perkawinan yang sah. Di dalam keluarga ini lahirlah anak-anak. Di sinilah terjadi interaksi pendidikan.

Pada ahli didik umumnya menyatakan pendidikan di lembaga ini merupakan pendidikan yang pertama dan utama karena pendidikan di sini mempunyai pengaruh yang dalam terhadap kehidupan peserta dikemudian hari.

Pemeliharaan dan pembiasaan sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Kasih sayang orang tua yang tumbuh akibat dari hubungan daerah dan diberikan kepada anak secara wajar atau sesuai dengan kebutuhan, mempunyai arti sangat penting bagi pertumbuhannya. Kekurangan belaian kasih sayang orang tua menjadikan anak keras kepala, sulit diatur dan mudah memberontak dan lain-lain, tetapi sebaliknya kasih sayang yang berlebihan menjadikan anak manja, penakut, tidak cepat untuk dapat hidup mandiri. Karena itu harus pandai dan tepat memberikan kasih sayang kepada anaknya jangan krang dan jangan pula berlebihan.

Keluarga yang ideal ialah keluarga yang mau memberikan dorongan yang kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan Agama. Jika mereka mampu dan berkesempatan, maka mereka akan melakukan sendiri pendidikan agama ini, tetapi apabila tidak mampu atau tidak berkesempatan, maka mereka akan mendatangkan guru agama untuk memberikan pelajaran privat kepada anak-anak mereka.

Adapun keluar yang acuh dan atau tidak taat menjalankan agama atau bahkan membenci kepada ajaran agama, keluarga ini tidak akan memberikan dorongan kepada anaknya untuk mempelajari Agama. Malah boleh jadi mereka bersikeras, melarang anaknya mempelajari Agama. Karena mereka berkeyakinan bahwa agama itu justru menghambat perkembangan dan kehidupan anaknya. Keluarga yang demikianlah yang melahirkan anaknya bersikap apatis terhadap agama bahkan mungkin menjadi ingkar terhadap kebenaran Agama. Setelah anak memasuki mas kanak-kanak (estetis) lingkungannya sudah makin luas.

Selain dari ayah bundanya, keluarga-keluarga lain pun telah memegang peranan. Hubungan keluarga selain Ibu bapak, membawa akibat-akibat baru terhadap anak-anak itu.

Orang tua bijak sana akan memberi kesempatan secukupnya kepada anak-anaknya untuk bergaul dengan keluarga-keluarga itu, dengan tetangga-tetangga yang dekat dan sebagainya.

  1. Sekolah

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga. Pada anak-anak menginjak umur 6 tahun atau 7 tahun perkembangan intelek, daya pikir telah meningkat sedemikian rupa, karena itu pada masa ini disebut masa keserasian bersekolah. Pada saat ini anak telah cukup matang belajar di sekolah. Ia telah mampu mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah seperti matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa, Olah Raga, Keterampilan, Agama dan sebagainya..

Dan memang sekolah yang telah diatur dan dipersiapkan sedemikian rupa, mampu melaksanakan tugas-tugas di atas, tugas guru dan pemimpin-pemimpin di sekolah di samping memberikan pendidikan dasar-dasar keilmuan juga pendidikan budi pekerti dan agama ini seharusnya merupakan lanjutan atau setidak-tidaknya tidak bergantung dengan yang diberikan di dalam keluarga.

Apabila ada perbedaan atau bahkan pertentangan dari keduanya akan mengakibatkan kebingungan pada anak atau mungkin ketidak kepercayaan anak kepada kedua lembaga tersebut. Karena itu pendidikan di sekolah mestinya searah dengan searah yang diberikan di dalam keluarga, syukur kalau mungkin diadakan kerja sama diantara keduanya. Hal yang demikian ini berpengaruh positif bagi pembentukan kepribadian anak. Selain dari itu, setiap kerja sama diatara keduanya. Hal yang demikian ini berpengaruh positif bagi pembentukan kepribadian anak, selain dari itu, setiap kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam bidang apapun, akan membantu meniadakan konflik-konflik batin yang mungkin timbul karena perbedaan pandangan antara keduanya.

Di samping itu telah diakui oleh berbagai pihak tentang peran sekolah bagi pembentukan kepribadian sangat besar. Sekolah telah membina anak tentang kecerdasan, sikap, minat dan sebagainya dengan cara dan gayanya sendiri sehingga anak mentaatinya. Karena itu dapatlah dikatakan sekolah berpengaruh bagi jiwa dan keberagaman anak. Lingkungan sekolah yang positif terhadap pendidikan Islam yang lingkungan sekolah yang memberikan fasilitas dan motivasi untuk berlangsungnya pendidikan agama ini.

Sedangkan lingkungan sekolah yang netral dan kurang menumbuhkan jiwa anak untuk gemar beramal, justru menjadikan anak jumud, picik, berwawasan sempit. Sifat dan sikap ini menghambat pertumbuhan anak.

Lingkungan sekolah yang negatif terhadap pendidikan agama yaitu lingkungan sekolah berusaha keras untuk meniadakan kepercayaan agama di kalangan anak didik.

  1. Tempat ibadah

Yang dimaksud tempat ibadah di sini yaitu Musholla, Masjid dan lain-lain, oleh umat Islam tempat ini digunakan untuk pendidikan dasar-dasar ke-Islaman. Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari pendidikan di dalam keluarga. Di tempat ini biasanya diadakan pendidikan dan pengajaran Islam baik individu maupun klasikal (dalam bentuk madrasah Diniyah), rutin maupun berkala.

Disamping itu seringkali diadakan pengajian-pengajian umum seperti pengajian untuk peringatan hari-hari besar Islam, tabligh akbar, diskusi dan seminar.

Mengenai pendidikan anak-anak (Madrasah Diniyah) kurikulum dan penyelenggaraannya ada yang diatur oleh sekolah sendiri, tetapi banyak mengikuti petunjuk atau yang ditetapkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia.

Tempat ibadah demikianlah yang mampu menumbuhkan anak gemar beribadah, suka beramal, rajin berjemaah serta senang kepada amal jariah.

Ada lagi tempat ibadah yang didirikan tidak digunakan untuk tujuan-tujuan Syiar Islam sebaliknya justru untuk menghancurkan Islam sebagai mana Masjid Dhirhan yang didirikan sewaktu Nabi Muhammad masih hidup. Masjid ini akhirnya diperintahkan Nabi untuk dihancurkan saja. Lingkungan Masjid ini membawa pengaruh searah dengan tujuan pembangunan Masjid tersebut yaitu membenci kepada Islam.

Dalam bukunya, Abdurrahman An-Nahlawi, prinsip-prinsip dan metoda pendidikan Islam dikatakan bahwa Masjid memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Fungsi eklusif Masjid

Diantara beberapa fungsi Masjid itu adalah sebagai strategi angkatan perang dan gerakan kemerdekaan umat dan lain-lainnya sehubungan dengan itu bahwa pengajaran baca tulis, yakni pemberantasan buta huruf, Masjid juga merupakan sumber pancaran moral, karena disitulah kaum muslimin menikmati akhlak-akhlak yang mulia

  1. Fungsi sosial Masjid

Anak-anak menerima pendidikan Masjid dalam naungan Masyarakat Islam yang menunjukkan kebangkitan dan peningkatan. Masyarakat mengatur segala unsurnya berdasarkan musyawarah, membantu para anggotanya yang sakit lalu menjenguknya, mengawasi para fakir miskin yang membutuhkan lalu membantu mereka dengan pemberian yang Allah limpahkan pada mereka, dengan demikian mereka menjalin tali kasih, pertalian hati diantara seluruh kaum muslimin, sehingga mereka menjadi suatu masyarakat yang kuat saling berpegangan erat dengan berperan serta dalam mendidik membangkitkan serta menghidupkan generasi umat.[7]

  1. Masyarakat

Organisasi-organisasi yang tumbuh dalam masyarakat itu banyak antara lain :

  1. Kependudukan
  2. Perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti perkumpulan Mahasiswa, perkumpulan pelajar, (HMI, PMII, PII, IPN, IPPNU, Ansor dan sebagainya)
  3. Perkumpulan-perkumpulan olah raga dan kesenian.
  4. Perkumpulan-perkumpulan sementara panitia penolong korban bencana alam.
  5. Perkumpulan (club-club) pengajian atau diskusi.
  6. Perkumpulan koperasi dan lain-lain.

Organisasi-organisasi seperti tersebut di atas jika mendasarkan diri pada agama mempunyai pengaruh positif bagi kehidupan keagamaan.

Tidak kalah pentingnya dengan organisasi-organisasi tersebut di atas yaitu persekutuan hidup di dalam masyarakat yang memanifestasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, kesemuanya itu ikut mempengaruhi keagamaan anak-anak.

Perkumpulan dan persekutuan hidup masyarakat yang memberikan anak untuk hidup dan mempraktekkan ajaran Islam rajin beramal, cinta damai, toleransi, dan suka menyambung ukhuwah Islamiah, sebaliknya lingkungan yang tidak menghargai ajaran Islam maka dapat menjadikan anak apatis atau masa bodoh kepada agama Islam. Apalagi masyarakat yang membenci kepada Islam, maka akhirnya anaknya akan membenci kepada Islam.[8]


DAFTAR PUSTAKA

Ø An-Nahlawi, Abdurrahman, prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan islam, Bandung : CV. Diponegoro, 1989

Ø Mustofa, A,Filsafat Islam, Bandung : CV Pustaka stia, 1997

Ø Utibiyati, nur, Ilmu pendidikan Islam 1, Bandung : CV Pustaka setia 1998.



[4] Musthafa. A, Filsafat Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1997), h.277

[5] Nur Uhbiyati, Ilham Pendidikan Islam 1, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1998) h.209

[6] Abdurrahman Saleh, didik dan Methodic Pendidikan Agama, ( Jakarta : Bulan Bintang 1969) hal 77-78 dikutip oleh Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung CV Pustaka Setia 1998) h. 210-211

[7] Abdurrahman an-nahlawi, prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam Bandung : CV Diponegoro, 1989), h.190-191 terjemahan dari Usnulat Tarbiyah Islamiyah wa asalibuna (Darul fikr, Damsyik, [t.th])

[8] Nur, Uhubiyahti.op.cit.,h 209-217

Tidak ada komentar: